Spek dan harga bukan jaminan produk flagship laris manis

Akhir-akhir ini, sebagian produsen smartphone berlomba meluncurkan product flagshipnya di tanah air. Sebut saja Samsung S8, iPhone 7, LG G6, Huawei seri P, serta lain sebagainya. Pastinya, mereka akan memerebutkan pasar yang lebih niche. Coba menggoda customer dengan sederet penawaran menarik dari segi spesifikasi serta beberapa feature yang mensupport.

Memanglah, di segmentasi ini tidaklah terlalu banyak produsen smartphone yang bermain. Cuma sebagian saja yang serius mengerjakan tempat ini. Lalu, bagaimana deskripsi peta persaingannya? Pengamat Gadget Lucky Sebastian mengemukakan gagasannya berkaitan persaingan smartphone flagship ini.

Menurut dia, waktu produsen melaunching satu product premium, jadi otomatis hal semacam itu adalah pertaruhan besar untuk nama brand tersebut. Sebab, tidak gampang memperlakukan customer di segmentasi ini. Terdapat beberapa hal yang dituntut yang menginginkan betul-betul di perhatikan mereka. Lumrah, mereka berkantong tidak tipis.

” Bangun penjualan seri flagship tak gampang, lantaran harga nya yang condong mahal, konsumen juga menuntut after sales yang semakin bagus serta premium. Ini satu diantara aspek yg tidak gampang dipenuhi oleh beragam brand di Indonesia, ” tuturnya waktu dihubungi Merdeka. com lewat pesan singkat, Jumat (21/4).

Dia mencontohkan sebagian brand yang pernah melaunching smartphone flagshipnya lalu tidak ada berita lagi. Satu diantaranya ada OnePlus. Kata dia, OnePlus sukses berkibar namanya, sebagai Chinese brand dengan product flagshipnya. Tetapi, seiring waktu berjalan, mereka juga ‘tumbang’. Lalu OPPO yang pernah coba peruntungan di product flagship. Secara singkat, segment flagship mereka juga cuma untuk sebentar. Alhasil, OPPO juga berpaling ke pasar yang lebih gemuk.

” OPPO sempat juga coba bertarung di product flagship di Indonesia, namun tak dapat fight dengan brand-brand global. Walaupun saat ini OPPO begitu di kenal di Indonesia, namun product yang mereka menawarkan cuma mid-range, ” terangnya.

Jadi, kata Lucky, brand-brand yang bertarung dengan spesifikasi serta harga terjangkau saja belum pasti dapat memperoleh tempat di pasar flagship Indonesia. Ramuan untuk jadi flagship yang disukai ini bukan hanya spesifikasi serta harga.

” Pasar flagship ini cukup ‘sempit’ namun begitu punya pengaruh. Bukanlah sekedar hanya spesifikasi atau value for money, namun memanglah banyak pertimbangan, ” ungkap dia.

Sederhananya, Lucky menerangkan kalau nama brand adalah tolok ukur yang bakal senantiasa jadikan landasan customer untuk membawa pulang smartphone flagship. Selama ini, berdasar pada pengamatannya sejatinya cuma ada dua brand hp yang notabene merepresentasikan premium, yaitu Samsung serta iPhone. Diluar itu, cuma dikira sebagai pemanis pasar saja.

” Sesaat ini flagship dengan nama brand, cuma dua yang kuat, Samsung serta iPhone. Flagship Samsung paling akhir kuasai 70 % pasar smartphone flagship Indonesia. Th. ini, iPhone resmi masuk Indonesia, namun begitu terlambat. Tetapi, kita masihlah menanti next iPhone, apakah sesudah resmi masuk Indonesia kembali sesudah skema Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dapat ada pas saat, serta berkompetisi dengan Samsung? ” tutur dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *